Mungkin tulisan ini hanya merupakan sebuah pandangan seorang anak manusia yang begitu ringkih, yang dalam keringkihan dan ketidak berdayaannya mencoba untuk mengkritik realitas sosial. Karena seperti yang ada dalam Alquran, ajaran dari wahyu pertama itu adalah ajaran untuk melakukan kritik sosial. Perintah membaca pada Nabi saw (Iqra’), sebenarnya bukan perintah dalam artian membaca tulisan, tapi membaca realitas sosial jahiliah pada saat itu. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, pertama, Nabi itu seorang yang ummi maka tidak mungkin perintah membaca tulisan bisa dilaksanakan oleh Nabi, kedua, Malaikat Jibril turun membawa wahyu tidak disertai dengan membawa lembaran-lembaran yang berisi tulisan. Sejujurnya, terlalu kuat hasrat saya kali ini untuk menulis, sehingga dengan begitu saja dan dengan mudah terlahir beberapa goresan tinta. Anehnya lagi, sekarang-sekarang ini saya ingin menulis tema tentang spiritual kata kaum cendekiawan, atau tema kajian sufi kata para santri. Mungkin karena tema kesufian (tasawuf) sendiri sering diwacanakan bahkan tak jarang para kiai memperdebatkannya, padahal sejatinya tasawuf itu rasa bukan logika yang seharusnya dihayati, direnungkan dan dilaksanakan bukan dijadikan bahan perdebatan. Sudah begitu jauhkah kita terasing dari salah satu sisi kemanusiaan kita (sisi ruhaniah), sehingga tema-tema spiritual kita jadikan tema fisikal, atau mungkin karena cara keberagamaan kita yang memang cenderung berangkat dari hal-hal yang bersifat lahiriah (syari’at) menuju hal-hal yang batiniah (ma’rifat). Padahal kalau kita perhatikan Nabi Muhammad saw itu mengawali keberagamaannya dari hal-hal yang ma’rifat menuju syari’at. Hal ini terbukti melalui peristiwa isra’ mi’raj, Nabi bertemu Allah terlebih dahulu (ma’rifat) dan setelah itu Nabi diperintahkan untuk shalat (syari’at). Tapi biarlah demikian, karena saya tidak hendak mengajukan sebuah thesis dengan mengharapkan adanya antithesis supaya terbentuk sebuah sintesis.
Hari itu, kebetulan saya mengikuti sebuah pengajian di marhalah Mutaqadimah, mengaji kitab Fiqh as-Sunnah magnum opusnya Sayyid Sabiq, yang konon menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz merupakan salah satu kitab fiqh terbaik. Tema pengajian saat itu adalah Iyadah al-Maridh (menjenguk orang sakit) halaman 246 jilid I. Ketika sampai pada hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, kontan kesadaran saya tersentak seolah baru siuman, ada semacam getaran rasa tersendiri. Saya sendiri kurang begitu tahu perasaan teman-teman saat itu, karena memang pak kiai menjelaskan hadits tersebut sebatas tinjauan fiqhtasawuf), mungkin karena memang sedang mengaji kitab fiqh bukan tasawuf. (lahiriah) belaka tanpa berusaha melonjak ke tataran spiritual
Kira-kira begini terjemahan hadits tersebut, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak berfirman “Wahai manusia Aku sakit tetapi kamu tidak pernah menjenguk Ku”. Manusia berkata “Wahai Tuhan ku, bagaimana mungkin aku munjenguk Mu, sementara Engkau adalah Tuhan semesta Alam”. Allah menjawab “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya hamba Ku si Fulan sakit sementara kamu tidak pernah menjenguknya, tidak tahukah kamu bahwasannya jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan menemukan Ku disisinya”. Terus demikian sampai Allah mempertanyakan kepada manusia kenapa tidak pernah memberinya makan dan minum tatkala Allah memintanya, dan terus begitu jawaban manusia.
Kontan saat itu darah saya berdesir dengan cepat dan bulu kuduk pun terasa merinding. Tidak terbayang sama sekali, kalau saya ditegur oleh Allah di hari kiamat dengan teguran demikian, sulit sekali menggambarkannya.
Bagi saya hadits di atas seakan mengajarkan sebuah kearifan, kepedulian, kesalehan sosial dan kesadarn religius. Setiap hari sudah tak terhitung berapa banyak hamba Allah yang sakit tapi justru kita biarkan, berapa banyak hamba Allah yang mengemis demi sesuap nasi dan seteguk air tapi justru kita abaikan. Kita cenderung menutup mata dari realitas-realitas kehidupan sosial, kita terlalu asyik dan terlena dengan keindahan dunia yang sementara. Mungkin kita melihatnya, mendengarnya, tapi hati kita diam seribu bahasa, tak bergeming sedikit pun, tak terketuk sama sekali. Mungkin hati kita telah menjadi buta, tuli dan bisu serta lebih keras dari batu. Kita anggap itu takdir mereka dalam kehidupan dunia, itu perkara nasib baik atau buruk yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Kita anggap itu fenomena kehidupan, kita annggap itu sebagai hal yang wajar dan lumrah dalam kehidupan. Sunggguh kedunguan yang luar biasa, semoga Allah swt mengampuni kita.
Hari ini budaya individualisme dan golonganisme sudah semakin merebak, tidak hanya di perkotaan tapi juga di sebagian pelosok pedesaan. Sebuah evolusi sosial dan moral di negeri kita tercinta. Sehingga ketika ada tetangga yang sakit, baik sakit secara fisik atau ekonomi, kita tidak tergugah untuk menjenguknya, seolah bukan sebuah kewajiban, kita biarkan dan kita terlantarkan, kita egois dan kita apatis. Kita anggap mereka bukan kerabat kita, bukan family kita, mereka bukan golongan kita dan yang lebih naïf kita anggap mereka beda partai dengan kita. Padahal saat itulah kita dituntut untuk memperhatikan mereka, karena Tuhan pun sakit ketika hambanya sakit, tapi justru malah kita biarkan dan kita terlantarkan.
Di negeri ini ada banyak hamba Allah yang terabaikan dan teraniaya, bahkan pemerintah pun tak lagi peduli dengan nasib mereka. Bahkan kerap kali ketika kita naik sebuah bus kota atau kendaraan umum lainnya, kita menemukan diantara saudara-saudara kita yang sedang mengamen dan mengemis, mengais rezeki yang tidak seberapa demi sesuap nasi dan seteguk air putih. Tapi apa yang kita lakukan saat itu? Tak jarang sebagian di antara kita malah mengutuknya serta memakinya, kita anggap mereka sebagai bagian dari orang yang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tak berwajah, karena mereka sering mengemis. Kita posisikan mereka sebagai bagian dari para pendosa yang nista, kotor dan menjijikan, yang tidak secara langsung memposisikan diri kita sebagai manusia yang paling saleh, paling suci dan paling baik amalnya. Atau ada di antara kita yang mau berbagi sedikit rezeki dengan mereka, kita beri mereka uang recehan (ada yang 100, 500 atau paling gade 1000 rupiah), sembari menganggap bahwa itu adalah bagian dari amal saleh, padahal nurani kita menyatakan bahwa kita pun merasa malu memilki barang yang demikian. Maka tidak aneh, jika di zaman sekarang banyak orang yang bersedekah dengan sejumlah uang recehan, pakaian bekas dan makanan sisa, sembari beranggapan itulah amal shalih. Padahal Islam mengajarkan agar kita berderma dengan sesuatu yang terbaik dan masih kita cintai, bukan dengan sesuatu yang serba sisa yang, tidak secara langsung tanpa disadari menjadikan orang lain tak jauh beda dengan wadah sampah.
Tidak dapat kita sangkal, bahwa penduduk negeri ini sudah semakin tersibukkan dengan urusannya masing-masing. Orang kaya (kaum borjuis) terlalu sibuk mengurusi uangnya, menghitung kekayaan dan aset perusahaannya sembari terus meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga dan golongan. Mereka terjebak dalam gaya hidup yang glamour, hedonis, individualis tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk berbagi dengan si miskin di pinggir jalan atau si gelandangan di kolong jembatan. Adapun di pihak lain, para pejabat, pemerintah dan elite politik tersibukkan oleh masalah jabatan, pangkat dan kedudukan, padahal seharusnya mereka berjuang untuk rakyat di negeri ini, mereka seharusnya menjadi pelayan masyarakat, tetapi nyatanya mereka tidak pernah mau jadi pelayan, selalu ingin dilayani dan dihormati oleh rakyat. Sungguh seorang pelayan yang tidak tahu diri, melakukan kudeta dan menjadikan diri sebagai raja. Maka tidak heran jika masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak pernah terpecahkan, dari tahun ke tahun jumlahnya bukan semakin berkurang malah makin bertambah. Padahal sudah banyak sarjana yang mendapatkan berbagai penghargaan karena kemiskinan, karena pengemis dan karena mereka yang jadi gelandangan. Sungguh ironi, semuanya hanya wacana belaka. Di samping itu, ada juga kelompok yang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat di parlemen, mereka melakukan kampanye dengan yang tidak sehat, bukan karena melanggar aturan, tapi karena modelnya yang kampungan dan murahan. Mereka membuat spanduk, kaos dan kalender dengan poster dan jargon masing-masing ditanbah lagi dengan janji manis yang selalu jadi pil pahit bagi rakyat. Padahal kalau kita boleh jujur, rakyat kita saat ini, terutama kaum miskin tidak membutuhkan spanduk, kalender dan janji-janji manis, akan tetapi mereka lebih membutuhkan uluran tangan kita, bantuan, perhatian dan santunan. Mereka butuh lapangan kerja, mereka butuh sesuap nasi untuk menyambung kehidupan. Alangkah baiknya jika dana kampanye setiap caleg dialihkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga demi kesejahteraan rakyat jelata, dikumpulkan dan dihimpun oleh lembaga tertentu dan disalurkan kepada mereka yang selalu mempertanyakan “besok makan apa”, bukan pada mereka yang berkata “besok makan siapa”.
Sementara itu di pihak lain, sebagian kaum elite agama (kiai atau ulama) selalu sibuk dengan ibadah-ibadah ritual yang sifatnya individual. Mereka terlalu asyik dan khusyuk dalam shalat dan munajatnya, sehingga umat pun terlantar dan terabaikan. Mereka tenggelam dalam ibadah-ibadah ritual formal dan mengurusi hal-hal yang bersifat lahiri semata. Mereka hanya bisa berbicara masalah shalat dan zakat tanpa disertai usaha penanaman nilai-nilai moral shalat dan spiritualitas beragama pada masyarakat. Mereka hanya mengajarkan konsef sabar dan pasrah pada orang-orang miskin, tapi tidak pernah mau berbagi. Padahal jika kita perhatikan sebagian dari mereka termasuk kalangan mampu dan berada, tapi ternyata hedonisme dan kesenangan dunia menjebaknya. Sebagian mereka hanya mampu mengutuk orang-orang yang tidak shalat berjama’ah, melalaikan shalat dari waktu yang semestinya, dan mencap orang yang demikian sebagia kaum yang mendustakan agama. Sejatinya dalam pandangan cendikiawan muslim, orang yang mendustakan agama bukan orang yang tidak melakukan shalat berjama’ah atau orang yang melalaikan shalat dari waktunya, karena yang demikian jelas diampuni, apalagi ketika kondisi memaksa mereka berbuat demikian. Justru yang mendustakan agama adalah mereka yang berpaling dari nilai-nilai moral dan spiritual dalam shalat, shalat mereka hanya sebatas lahiri belaka tidak sampai pada tataran batini (penghayatan ritual keagamaan). Sehingga kesalehan mereka hanya bersifat individual belaka dan tidak sampai pada tahap kesalehan sosial.
Agama kita ini adalah Islam yang artinya penyelamatan, bukan salam yang artinya keselamatan. Dari segi penamaanya ada nuansa tersendiri dan ada semacam tuntunan untuk bergerak keluar menjadi penyelamat. Karena itu dalam firman Allah kita dapati bahwa Allah mencintai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bukan hasinin (orang-orang yang baik). Dalam sabda Nabi saw pun kita temukan ungkapan yang senada dengan itu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi bukan seberapa banyak yang kita lakukan untuk diri kita, tapi seberapa banyak yang dapat kita lakukan dan kita berikan bagi orang lain, meskipun substansinya tetap untuk kita.
Sungguh malang nasib rakyat kecil, mereka makin tergusur dan terasingkan dari percaturan dunia saat ini. Mereka adalah tanggungan kita sebagi orang yang mampu. Karena itu jenguklah mereka ketika sakit, berilah mereka makan dan minum tatkala lapar dan dahaga. Berikan yang terbaik dan bukan sisa, karena pada saat itulah Tuhan sakit, dan meminta makan dan minum pada kita.
Sekarang tidak terketukkah hati kita?!
by berbagai sumber