Ikhlas beramal

"Dan apabila di bacakan Al'quran,maka dengarkanlah baik-baik,dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ((Q.S 7:204)

Memaafkan Yang Berbuat Zhalim

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 2 Januari 2010

” Barang siapa menginginkan ditinggikan bangunan ( disyurga ) dan dinaikan beberapa derajat baginya maka maafkanlah orang yang berbuat zhalim,berilah orang yang kikir dan bersilaturahimlah kepada orang yang memutuskan ( tali silaturahim).
” Apabila telah terjadi kiamat, ada yang menyeru ‘Dimanakah orang-orang yang suka memaafkan orang lain,Datanglah kamu semua kepada Tuhanmu dan ambilah pahala-pahalamu.’
Demikianlah hadits Rasulullah SAW yang sering di kutip ketika para muballigh memberikan taushiyah dalam acara halal bihalal.
Mengapa rasulullah mengatakan demikian? Karena,orang yang memaafkan pahalanya sangat besar dan mendapatkan jaminan syurga yang bangunannya lebih tinggi dari yang lain. Karena sifat al-afwu (pemaaf) Rasulullah memberi maaf,memberi ampun terhadap orang yang melakukan kesalahan tanpa rasa benci terhadapnya atau sakit hati atau ada keinginan untuk membalas padahal mampu membalasnya.
Memaafkan hanya untuk sementara waktu tetapi tetapi tetap menyimpan perasaan buruk untuk membalas pada waktu yang lain bukanlah sifat al-afwu. Begitu pula memaafkan dengan menyembunyikan kebencian terhadap orang yang berbuat kesalahan,itu juga bukan pemaafan.
Nabi menyerap sifat pemaaf dari sifat Allah Afuwwan (Maha Pemaaf),sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran,”jika kamu melahirkan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan orang lain,sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Kuasa.”-QS An-Nisa’ (4:149)

Tak Ada Cercaan
usai perang khaibar,pihak Yahudi khaibar tunduk kepada umat islam.Meski begitu,masih banyak pihak yahudi yang dendam pada Nabi. Diantaranya adalah Zainab binti Al-Harits,istri Sallam bin Misykam,salah seorang pemuka Yahudi.
Ia menawarkan hadiah kambing bakar kepada Nabi.Ia bertanya kepada Nabi,bagian kambing yang mana yang beliau sukai.
Lalu ada sahabat yang mengatakan bahwa Nabi paling senang paha kambing. Segera Zainab memberi racun sebanyak-banyaknya pada bagian paha kambing tersebut. Ia lalu mengantarkan paha kambing itu kepada itu kepada Nabi,dan beliau mengambil sedikit lalu memakannya.
Namun ketika mengunyahnya,Nabi tidak suka rasanya,dan menghentikan makannya. Sedang sahabat yang lain,Bisyr Al-Barra bin Ma’ruf,juga mengambil nya dan ia menyukainya sehingga terus mengunyahnya.
Nabi kemudian memuntahkan daging paha kambing itu sambil berkata,”Sesungguhnya tulang (paha kambing) ini memberi tahu kepadaku bahwa dia diberi racun.”
Zainab dipanggil dan di tanya tentang hal tersebut.
Karena kewibawaan dan kharisma Nabi,Zainab tidak dapat berkata-kata lain selain mengakui perbuatannya.
Rasulullah berkata,”Kamu terdorong oleh apa sehingga berbuat demikian?”
Zainab menjawab,”Karena engkau telah menaklukan kaumku. Karena itulah,aku berkata dalam hati,”Apabila Muhammad seorang raja,tentulah akan aman dari tindakannya;dan apabila ia memang seorang nabi, tentu ia akan diberi tahu.”
Zainab telah membuktikan bahwa Muhammad Saw memang seorang nabi,dan beliau selamat.Sedangkan Bisyr,yang manusia biasa,meninggal dunia karena racun ganas itu.
Nabi memaafkan Zainab. Namun dalam perkara Bisyr,Zainab tetap dihukum qishash.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu sebagaimana juga yang terjadi saat Fathu Makkah,pembebasan kota makkah.
Sejarah mencatat,kaum Quraisy telah membantai para kekasih,sahabat dan pendukung Nabi Muhammad Saw.Namun apa yang terjadi setelah Nabi berhasil membebaskan kota Makkah dari kezhaliman kaum Quraisy?Beliau berkata kepada penduduk Makkah,”Apa yang akan kalian katakan? Dan apa yang akan aku lakukan menurut sangkaan kalian?’
Mereka menjawab,”Engkau adalah saudara yang pemurah dan putra paman kami yang penyayang.”
Beliau berkata,”Aku akan mengucapkan apa yang diucapkan oleh saudaraku (Nabi)Yusuf (alaihissalam),’Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu,mudah-mudahan Allah mengampuni(kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”-QS Yusuf (12):92.

by : berbagai sumber

Ditulis dalam Akhlak Muslim | 4 Komentar »

Puasa Ulat

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 22 Agustus 2009

Pernahkah anda memperhatikan kupu-kupu? Datanglah ke taman yang penuh bunga. Insya Allah kita akan menemukan banyak serangga, termasuk kupu-kupu. Binatang itu begitu cantik dengan sayapnya yang indah. Apalagi jika ia sedang hinggap diantara berbagai kelopak bunga yang beraneka warna. Siapa pun tidak akan bosan memandangnya. Tapi tahukah anda, darimana kupu-kupu berasal? Seekor kupu-kupu yang indah itu sesungguhnya berasal dari seekor ulat yang tampak menjijikan dan lemah. Itulah faktanya. Bagaimanakah seekor ulat yang lemah dan menjijikan itu mampu bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan mempesona?
Untuk menjadi seekor kupu-kupu, seekor ulat harus mengalami sebuah pase tanpa makan dan minum yang dalam bahasa manusia disebut puasa. Dalam pase ini, ia membungkus dirinya (berkhalwat atau mengasingkan dirinya) dalam kepompong. Setelah beberapa waktu hidup sendiri dalam kepompongnya, tanpa makan dan minum, maka lahirlah seekor binatang baru, yang berbeda jauh dari binatang sebelumnya (ulat), yaitu kupu-kupu yang sangat indah tadi.
Jika seekor ulat ingin mencapai suatu tempat, maka ia harus menggerakan seluruh tubuhnya dengan susah payah. Ia pun dengan mudah dapat dipatuk oleh seekor burung. Akan tetapi tidak demikian halnya ketika ia telah berubah menjadi seekor kupu-kupu. Hanya dengan menggerakan sayapnya saja, ia sudah dapat hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Janganlah seekor burung, manusia pun harus mencari akal untuk menangkap seekor kupu-kupu. Ia dengan mudah dapat terbang jika menyadari bahaya di dekatnya.
Demikianlah seekor kupu-kupu. Dengan puasa yang dijalaninya, ia mampu merubah keadaan dirinya yang kecil tanpa daya dan menjijikan menjadi binatang yang penuh pesona dan lincah. Itulah makna puasa bagi seekor kupu-kupu.
Jika puasa seekor ulat mampu merubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu, bisakah puasa yang kita lakukan merubah kualitas hidup kita menjadi lebih baik?
Mestinya bisa! Dalam surat al-Baqarah 183, Allah menjelaskan, bahwa puasa yang dibebankan kepada manusia (baik manusia sekarang maupun manusia dari generasi sebelum kita) bertujuan untuk merubah kualitas hidup kita menjadi manusia yang taqwa. Ini artinya, sesungguhnya puasa memang bisa merubah suatu keadaan menjadi keadaan yang lebih baik.
Akan tetapi, tidak semua puasa yang dilakukan manusia mampu merubah kualitas hidup orang yang melakukannya menjadi manusia taqwa. Semua itu tentu tergantung bagaimana kualitas puasa itu sendiri. Maka tidak salah jika Al-Ghazali membagi tiga tingkatan atau kualitas puasa, yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa super khusus (khawas al-khawas).
Semakin tinggi tingkat puasa kita, maka semakin besar pengaruh puasa dalam merubah kualitas hidup kita menjadi lebih baik. Jika seekor ulat yang berpuasa mampu bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu, maka manusia yang puasanya berkualitas tidak perlu menjadi malaikat, tetapi menjadi manusia yang bertaqwa. Mengapa demikian? Karena manusia yang bertaqwa derajatnya lebih tinggi daripada malaikat yang tidak pernah berbuat dosa itu.
Wallahu a’lam bishshawwab..

Ditulis dalam Akhlak Muslim | Bertanda: | 14 Komentar »

Hidup dan Ujian

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 11 Juli 2009

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيّئات أعمالنا من يهده الله فلا مضلّ له ومن يضلله فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلاّالله وحده لاشريك له وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله. اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم إلى يوم الدّين. ياأيّهاالّذين أمنوااتّقواالله حقّ تقاته ولاتموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون. أعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم. بسم الله الرحمن الرحيم : أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ ( ألبقره : 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat. (Al-Baqarah: 214)

Pembaca yang budiman

As-Sya’di dalam tafsirnya menjelaskan: Allah SWT mengabarkan bahwasanya Dia sudah pasti akan menguji hamba-hambaNya dengan malapetaka, kesengsaraan dan kesulitan sebagaimana yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang sebelumnya, karena itu adalah sunnahNya yang berjalan yang tidak berganti dan tidak berubah sebagai sunatullah.

Barangsiapa yang menegakkan agama dan syariatNya, ia pasti akan diuji, apabila dia bersabar dalam perintah Allah dan tidak mem-pedulikan kesulitan yang menghadang dihadapannya, maka dia adalah orang yang benar yang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan jalan kepemimpinan, dan barangsiapa yang menjadikan fitnah (ujian) manusia seperti siksa dari Allah yaitu bahwa dia terhalang oleh segala kesulitan dari tujuan yang ditempuhnya, dan dia dibelokkan oleh cobaan-cobaan dari maksud dan sasarannya, maka dia adalah pembohong dalam pengakuan keimanannya, karena keimanan itu bukanlah dengan kekaguman, angan-angan dan sebatas pengakuan, hingga perbuatan yang akan membenarkan atau mendustainya, sesungguhnya telah terjadi pada umat-umat ter-dahulu apa yang diceritakan oleh Allah tentang mereka, مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ “Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan” yaitu kemiskinan dan penyakit pada tubuh mereka, وَزُلْزِلُوا “serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)” dengan berbagai macam ketakutan seperti ancaman pembunuhan dan pengusiran, harta mereka diambil, pembunuhan orang-orang yang dicintai, dan macam-macam hal yang berbahaya hingga kondisi mereka memuncak dan goncangan itu membuat mereka menduga bahwa per-tolongan Allah itu lambat, padahal mereka yakin akan kedatangan-nya. Akan tetapi karena situasi yang dahsyat dan kesulitannya itu sehingga dia berkata:

الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ :”Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’” Disaat datang pertolongan Allah pada kesusahan, dan setiap kali perkara terasa sulit kemudian menjadi lapang, Allah ber-firman:

أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيب

“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.

Demikianlah setiap orang yang menegakkan kebenaran itu pasti akan diuji, dan ketika persoalannya semakin sulit dan susah lalu dia bersabar dan tegar menghadapinya niscaya ujian tersebut akan berubah menjadi anugerah untuknya, dan segala kesulitan itu menjadi ketenangan, lalu Allah menyusulkan semua itu dengan kemenangannya atas musuh-musuhnya serta mengobati penyakit yang ada dalam hatinya.
Ayat ini sejalan dengan firman Allah SWT,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)

Dalam ayat lain Allah Berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiar-kan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan se-sungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut:2-3).

Sebagai seorang beriman kita dituntut menyikapi berbagai episode hidup dengan lurus penuh keyakinan kepasrahan yang tulus bahwa hal ini adalah nasihat dan wejangan dari Allah yang harus kita pegang dan berusaha jujur serta menerima atas nasihat itu. Sehingga dalam diri kita tidak ada indikasi membohongkan atau berlaku dolim apalagi sampai berpaling dari ayat-ayat Allah, yang hal ini adalah hakikatnya merupakan ujian keimanan pada kita, kita takut betapa besar ancaman Allah terhadap orang yang berpaling dari ayat-ayat dan nasihat-Nya

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آَذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا (57) وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا (58) وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا (59)

Dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang Telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang Telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya kami Telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. jika dia mengadzab mereka Karena perbuatan mereka, tentu dia akan menyegerakan adzab bagi mereka. tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat adzab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya. Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka berbuat dzalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka. ( Al-Kahfi 57-58).

Mudah-mudahan kita tidak termasuk kepada kelompok tersebut, dan tentunya kita senantiasa menghindarinya dengan segala kemampuhan kita, semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk senantiasa menerima dan istiqomah di jalan-Nya dan menerima segala ketentuan-Nya dengan sabar dalam menghindari laranganana sebagai bentuk ujian dari Allah, karena dengan ujian itulah kita menjadi mulia sebagaimana dengan ujian pula kita menjadi terhina di sisi Allah SWT.

Mudah-mudahan tulisan ini Ada manfaatnya…Amin

by; berbagai sumber

Ditulis dalam Akhlak Muslim | 14 Komentar »

Matematika Dasar Sedekah

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 9 Juli 2009

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini.?

10-1=19

Pertambahan ya.? Bukan pengurangan.? Kenapa matematikanya begitu..? Matematika pengurangan dari mana..? Kok ketika dikurangi hasilnya malah lebih besar.? Kenapa bukan
10-1=9..?

Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah diatas adalah matematika sederhana yang diambil dari Qs. Al-An’am ayat 160 ketika Allah menjanjikan balasan 10 kali Lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

“Barang siapa membawa amal yang baik,maka baginya (pahala) sepuluh kali Lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan) ” (Qs.Al- An’am:160 )

Jadi, ketika kita punya 10,lalu kita sedekah kan 1 diantara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya bukan 9, melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan dikembalikan Allah sepuluh kali Lipat.
Hasil akhir atau jumlah akhir bagi mereka yang mau bersedekah tentu akan lebih banyak lagi, tergantung kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali Lipat lebih dari sekadar sepuluh kali Lipat. Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan 700 kali Lipat.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh ) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia Nya) lagi Maha Mengetahui” (Qs. Al-Baqarah: 261)

Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu apa bentuknya. Bukalah mata hati dan kembangkan ke-husnudzdzan-an atau positif thinking kepada Allah, bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita. ¤

Ditulis dalam Keajaiban Sedekah | 1 Komentar »

Kehebatan Sedekah

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 7 Juli 2009

Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa,dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah dan bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Subhanallah, inilah sekian fadhilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita tertutup dari kasih sayang Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat baik terhadap Allah maupun terhadap manusia membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuanNya,menawarkan kasih sayang Nya,menawarkan ridha Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan Nya. Tapi,kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua..? Kepada siapa yang mau bersedekah, kepada yang mau membantu orang lain, dan kepada yang mau peduli serta berbagi!

‘Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba Nya selama Ia menolong saudaranya.’ (HR. Muslim)

Kita memang susah, tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit,tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

Insya Allah, hari demi hari saya akan menulis tentang sedekah dan segala apa yang terkait dengan sedekah di blog ini. Saudara yang melihat, saudara yang membaca, saudara yang bisa memetik hikmahnya, saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga,kawan dan sahabat saudara. Barangkali ada kebaikan bersama yang bisa diambil.

Di blog ini pula saudara akan bisa mengambil petikan hadits hari perhari dan ayat hari perhari yang berkaitan dengan sedekah serta amaliyah yang terkait dengan pembahasan singkatnya.

Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara untuk melakukan sedekah dengan mengemukakan fadhilah-fadhilah/keutamaanya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada ihsan,mahabbah,ikhlas dan ridha Allah. Apa yang tertulis adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi dan kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu di motivasi untuk melakukan sebuah amal. Kepada Allah juga semuanya berpulang.

Akhirnya, mintalah doa Allah agar Dia terus-menerus membuka pintu ilmu,taufiq dan hidayah Nya hingga sampai kepada derajat “mukhlishiina lahuddiin”, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah Swt. *

Ditulis dalam Keajaiban Sedekah | Bertanda: | 2 Komentar »

Al-Qur’an Dan Penciptaan Alam Semesta

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 4 Juli 2009

Sepanjang zaman manusia selalu ingin tahu bagaimana alam semesta tak bertepi ini berawal, kemana ia menuju bagaimana hukum yang menjaga tatanan dan keseimbangannya bekerja. Selama ratusan tahun para ilmuwan dan pemikir telah melakukan banyak penelitian tentang hal ini dan memunculkan sedikit sekali teori.
Gagasan yang umum di abad ke XIX adalah alam semesta merupakan kumpulan materi dengan ukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya.
Selain menetapkan dasar berpijak bagi faham materialis, pandangan ini menolak keberadaan pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta adalah tidak berawal dan tidak berakhir, penganut faham materialis adalah Karl Maks, Vladimir I. Lenin, Friedrich Engels, Leon Trotsky dll. Materialisme adalah faham yang meyakini materi sebagai satu satunya keberadaan mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani kuno dan mendapat penerimaan yang luas pada abad ke XIX, faham ini menjadi terkenal dalam bentuk faham materialisme dialektika Karl Maks.
Para penganut faham materialisme meyakini bahwa alam semesta tak hingga sebagai landasan berpijak bagi faham atheis mereka, misalnya dalam buku PRINCIPES FONDAMENTAUX DE PHILOSOPHIE filosof materialis Georges Politzer menyatakan : “Alam semesta bukanlah suatu hal yang diciptakan, jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”
Ketika Pulitzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad XIX yang menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan dirinya, namun ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pada abad XX akhirnya melumpuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini. Telah ditemukan bahwa alam semesta tidaklah tetap seperti dugaan faham materialisme, tetapi malah sebaliknya, ia terus mengembang. Selain berbagai pengamatan dan perhitungan telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan ia diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan raksasa. Kini fakta ini telah diterima diseluruh dunia ilmu pengetahuan.
Pada tahun 1929 ahli astronomi berkebangsaan Amerika Hubble melalui pengamatan-pengamatannya pada galaksi-galaksi yang tersebar di langit, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya, ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut bergerak menjauihi kita, sebab menurut hukum fisika yang berlaku, spectrum cahaya berwarna yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung berwarna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung berwarna merah. Selama proses pengamatan spectrum cahaya bintang-bintang yang diamati cenderung berwarna merah, ini berarti bintang-bintang tersebut cenderung bergerak menjauhi kita (warna spektrum cahaya : merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu). Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lainnya, bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita tetapi juga saling menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta dimana satu sama lain bergerak saling menjauhi adalah ia secara terus menerus mengembang.
Agar mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di luar angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang. Pada tahun 1917 Einstein telah merumuskan persamaan matematis yang diharapkan dapat melukiskan sifat dan kelakuan alam semesta. Karena terpengaruh faham alam semesta statis, Einstein mencari penyelesaian persamaan tersebut yang dapat melukiskan alam semesta yang bersifat statis. Tahun 1917 Friedman menunjukkan bahwa persamaan Einstain yang asli (sebelum dilakukan perubahan sehingga sesuai dengan faham alam semesta statis) melukiskan bahwa alam semesta tidaklah statis, melainkan berkembang. Dikemudian hari Einstein menyadari bahwa tindakannya itu adalah sebagai kesalahan terbesar dari kariernya sebagai ilmuwan.
Apa arti dari mengembangnya alam semesta?. Mengembangnya alam semesta berarti jika alam semesta bisa bergerak mundur ke masa lampau maka ia akan terhenti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan titik tunggal ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah mempunyai volume nol dan mempunyai kepadatan tak hingga. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini. Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini disebut dengan Big Bang, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut.
Perlu diketahui bahwa volume nol merupakan pernyataan teoritis yang dipakai untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep ketiadaan yang berada diluar batas pemahaman manusia hanya dengan menyatakannya sebagai titik bervolume nol. Sebenarnya bahwa titik tak bervolume berarti ketiadaan.

Demikianlah, alam semesta muncul dari ketiadaan, dengan kata lain ia telah diciptakan.
Fakta ini yang baru ditemukan fisika modern abad XX telah dinyatakan dala Al Quran empat belas abad yang lampau, :”Dia pencipta langit dan bumi” (QS Al An’am 101).
Teori Big Bang menunjukkan semua benda alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Kenyataan ini yang dikemukan teori Big Bang, sekali lagi telah dinyatakan dalam Al Quran empat belas abad yang lalu saat manusia memiliki kemampuan terbatas tentang alam semesta : “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya pada langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya” (QS Al Anbiyaa’ 30).
Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain. Mengembangnya alam semesta adalah salah satu bukti terpenting yang ditunjukkan alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan.
Meski tak ditemukan oleh ilmu pengetahuan hingga abad XX, Allah telah memberi tahu kita akan kenyataan ini dalam Al Quran yang diturunkan empat belas abad yang lalu : “Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan/kekuatan Kami (dentuman besar) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (QS Adz Dzariyat 47).
Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan, dengan kata lain ia telah diciptakan Allah. Inilah alasan mengapa para astronom yang menganut faham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan ini mengemuka dalam pernyataan A.S. Eddington, salah satu fisikawan materialis yang sanagat terkenal : “Secara filosofis gagasan tentang permulaan tiba-tiba dan tatanan alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya”.
Bilamana maha ledakan itu terjadi? Dari pengetahuan kita mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta diperkirakan peristiwa terjadi antara sepuluh sampai lima belas milyar tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kosmos melebihi seratus juta-juta-juta-juta-juta derajat. Karena kerapatan materi yang sangat tinggi dan suhu yang sangat tinggi pula, orang tidak dapat menamakan keadaan alam semesta pada waktu itu.
Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk zat padat; kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas. Tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi ilmuan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai “sop-kosmos”; suatu fluida.
Istilah sop kosmos; suatu fluida barulah diketahui setelah berkembangnya ilmu fisika moderen, tetapi Al-Quran telah mengisyaratkannya dalam ayat 7 Surah Hud “Dan Dialah yang telah menciptakan alam semesta dalam enam masa, adapun ‘ArsyNya telah tegak diatas air…….
Kata-kata ArsyNya telah tegak diatas air (sebelum alam semesta diciptakan) mengandungg arti bahwa kekuasaaNya telah ditegakkan sebelum alam semesta tercipta. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah; dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu.
Kemaha perkasaan Allah dalam mengatur proses penciptaan alam semesta dilkukiskan dalam Surah Al-Fushilat ayat 11 : “Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan langit (sama) dan langit (sama) itu berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kamu berdua dengan patuh atau terpaksa”; keduanya berkata “Kami datang dengan patuh”.
Jadi pada saat penciptaan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai sunnatullah. Dengan berlakunya hukum-hukum alam ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom, molekul, partikel, dan seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari, bumi, bintang, galaksi, dan sebagainya berjalan sepanjang waktu sesuai dengan panggarisan hukum-hukum tersebut. Tida ada satupun yang menyimpang kecuali dengan izin Allah.
Seorang materialist lain, astronom terkemuka asal Inggris, Fred Hoyle, adalah termasuk yang paling terganggu oleh teori Big Bang. Dipertengahan abad ke XX, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut Steady State yang mirip dengan teori alam semesta tetap abad ke XIX. Teori Steady State menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan faham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta ini memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady state telah lama menentang teori Big Bang, namun ilmu pengetahuan justru melumpuhkan pandangan mereka. Pada tahun 1948, George Gamow muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan setelah pembentukan alam semesta dari ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang seharusnya ada ini pada akhirnya diketemukan.
Pada tahun 1965 Penzias dan Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini disebut dengan radiasi latar kosmis, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah diketahui bahwa sisa radiasi ini adalah peninggalan dari tahap awal peristiwa Big Bang.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian radiasi latar kosmis. Hanya perlu delapan menit bagi satelit tersebut untuk membuktikan hasil penelitian/perhitungan Penzias dan Wilson. Satelit Nasa tersebut telah menemukan sisa ledakan raksasa pada awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan penemuan teori Big Bang. Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima seluruh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta.
Dengan kemenangan Big Bang, mitos materi kekal yang menjadi dasar berpijak faham materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum Big Bang dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi ada dengan ledakan raksasa in saat alam tersebut tidak ada? Filosof atheis terkenal Anthony Flew berkata : “Sayangnya pengakuan adalah baik bagi jiwa. Karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Atheis Stratonesian terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini. Sebab tampaknya para ahli kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan”.
Banyak ilmuwan yang secara tidak buta menempatkan dirinya sebagai atheis telah mengakui peranan pencipta yang maha perkasa dalam penciptaan alam semesta, mereka adalah : Newton, Keppler, Koppernik, Hubble, Einstein. Pencipta ini haruslah zat yang telah mencipta materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya.
Ahli astro fisika terkenal Hugh Ross mengatakan :”Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta itu sendiri. Tuhan tidak pula berada di alam semesta”.
Kesimpulan ini memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak pula berada di alam semesta !!. Begitulah materi diciptakan oleh sang maha pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah penguasa langit dan bumi.
Sebenarnya Big Bang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum materialis dari pada pengakuan filosof atheis Anthony Flew, sebab Big Bang tak hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara terencana, tersusun rapi dan teratur.
Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini muncullah keseimbangan yang sangat luar biasa yang meliputi berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan dan benda angkasa lainnya. Hukum alampun terbentuk, yang kemudian disebut hukum fisika yang seragam di seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Hukum fisika yang muncul secara bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih dari lima belas milyard tahun !!. Selain itu hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti, sehingga penyimpangan satu milimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat kehancuran dari seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini menunjukkan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang. Namun ledakan tidak mungkin memunculkan suatu tatanan sempurna. Semua ledakan yang diketahui cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada.
Jika kita diberitahu tentang tatanan yang sangat sempurna setelah ledakan, kita dapat menyimpulkan ada campur tangan cerdas dibalik ledakan ini dan segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali, informasi ini telah disebutkan dalam Al-Quran 15 abad yang lalu dalam Surah Al-Qamar ayat 49 :”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran”
Pernyataan Fred Hoyle yang telah bertahun-tahun menentangnya mengungkapkan dengan jelas :”Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari ledakan tunggal. Tapi sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan meteri berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius menghasilkan dampak yang berlawanan, yakni misteri yang saling bergabung membentuk galaksi-galaksi”.
Tidak ada keraguan jika suatu tatanan sempurna muncul melalui suatu ledakan, maka harus diakui bahwa campur tangan pencipta berperan disetiap saat dalam ledakan ini. Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah penciptaan alam semesta yang dapat dihuni.
Persyaratan bagi suatu planet yang layak huni sungguh sangat banyak dan rumit, sehingga mustahil beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan.
Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davies berkata : “Bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Perhitungan jeli menempatkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat pada angka kritis yang dengannya alam semesta akan terlepas dari gravitasinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat dan alam ini akan runtuh, sedikit lebih cepat dan keseluruhan matahari alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Big Bang bukanlah sekedar ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat”.
Stephen Hawking dalam bukunya “The Brief History of Time” menyatakan : Bahwa alam semesta dibangun dengan perhitungan dan keseimbangan yang sangat akurat dari yang dapat kita bayangkan.
Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata : “Jika kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar satu per seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukuran seperti sekarang”.
Paul Davies juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang luar biasa akuratnya ini : “Adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta sekarang yang terlihat begitu peka terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah direncanakan dengan sangat teliti. Kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini, yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya, pastilah menjadi bukti paling meyakinkan adanya perancangan alam semesta”.
George Greenstein dalam bukunya yang berjudul “The Symbolic of Universe” menyatakan :”Ketika kita mengkaji suatu bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supranatural pasti terlibat”.
Singkatnya saat meneliti tatanan mengagumkan pada alam semesta akan kita pahami bahwa cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang sangat peka dan tatanan yang sangat rumit untuk dijelaskan oleh peristiwa kebetulan. Sebagaimana dimaklumi tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan raksasa. Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah suatu bukti nyata adanya penciptaan supra natural. Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan pencipta beserta ilmu, keagungan dan hikmahnya yang tak terbatas, yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah, Tuhan seru sekalian alam.

By Segala Sumber

Ditulis dalam Al-Qur'an | Bertanda: | 14 Komentar »

Renungilah Saudaraku

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 4 Juli 2009

Mungkin tulisan ini hanya merupakan sebuah pandangan seorang anak manusia yang begitu ringkih, yang dalam keringkihan dan ketidak berdayaannya mencoba untuk mengkritik realitas sosial. Karena seperti yang ada dalam Alquran, ajaran dari wahyu pertama itu adalah ajaran untuk melakukan kritik sosial. Perintah membaca pada Nabi saw (Iqra’), sebenarnya bukan perintah dalam artian membaca tulisan, tapi membaca realitas sosial jahiliah pada saat itu. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, pertama, Nabi itu seorang yang ummi maka tidak mungkin perintah membaca tulisan bisa dilaksanakan oleh Nabi, kedua, Malaikat Jibril turun membawa wahyu tidak disertai dengan membawa lembaran-lembaran yang berisi tulisan. Sejujurnya, terlalu kuat hasrat saya kali ini untuk menulis, sehingga dengan begitu saja dan dengan mudah terlahir beberapa goresan tinta. Anehnya lagi, sekarang-sekarang ini saya ingin menulis tema tentang spiritual kata kaum cendekiawan, atau tema kajian sufi kata para santri. Mungkin karena tema kesufian (tasawuf) sendiri sering diwacanakan bahkan tak jarang para kiai memperdebatkannya, padahal sejatinya tasawuf itu rasa bukan logika yang seharusnya dihayati, direnungkan dan dilaksanakan bukan dijadikan bahan perdebatan. Sudah begitu jauhkah kita terasing dari salah satu sisi kemanusiaan kita (sisi ruhaniah), sehingga tema-tema spiritual kita jadikan tema fisikal, atau mungkin karena cara keberagamaan kita yang memang cenderung berangkat dari hal-hal yang bersifat lahiriah (syari’at) menuju hal-hal yang batiniah (ma’rifat). Padahal kalau kita perhatikan Nabi Muhammad saw itu mengawali keberagamaannya dari hal-hal yang ma’rifat menuju syari’at. Hal ini terbukti melalui peristiwa isra’ mi’raj, Nabi bertemu Allah terlebih dahulu (ma’rifat) dan setelah itu Nabi diperintahkan untuk shalat (syari’at). Tapi biarlah demikian, karena saya tidak hendak mengajukan sebuah thesis dengan mengharapkan adanya antithesis supaya terbentuk sebuah sintesis.
Hari itu, kebetulan saya mengikuti sebuah pengajian di marhalah Mutaqadimah, mengaji kitab Fiqh as-Sunnah magnum opusnya Sayyid Sabiq, yang konon menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz merupakan salah satu kitab fiqh terbaik. Tema pengajian saat itu adalah Iyadah al-Maridh (menjenguk orang sakit) halaman 246 jilid I. Ketika sampai pada hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, kontan kesadaran saya tersentak seolah baru siuman, ada semacam getaran rasa tersendiri. Saya sendiri kurang begitu tahu perasaan teman-teman saat itu, karena memang pak kiai menjelaskan hadits tersebut sebatas tinjauan fiqhtasawuf), mungkin karena memang sedang mengaji kitab fiqh bukan tasawuf. (lahiriah) belaka tanpa berusaha melonjak ke tataran spiritual

Kira-kira begini terjemahan hadits tersebut, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak berfirman “Wahai manusia Aku sakit tetapi kamu tidak pernah menjenguk Ku”. Manusia berkata “Wahai Tuhan ku, bagaimana mungkin aku munjenguk Mu, sementara Engkau adalah Tuhan semesta Alam”. Allah menjawab “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya hamba Ku si Fulan sakit sementara kamu tidak pernah menjenguknya, tidak tahukah kamu bahwasannya jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan menemukan Ku disisinya”. Terus demikian sampai Allah mempertanyakan kepada manusia kenapa tidak pernah memberinya makan dan minum tatkala Allah memintanya, dan terus begitu jawaban manusia.

Kontan saat itu darah saya berdesir dengan cepat dan bulu kuduk pun terasa merinding. Tidak terbayang sama sekali, kalau saya ditegur oleh Allah di hari kiamat dengan teguran demikian, sulit sekali menggambarkannya.
Bagi saya hadits di atas seakan mengajarkan sebuah kearifan, kepedulian, kesalehan sosial dan kesadarn religius. Setiap hari sudah tak terhitung berapa banyak hamba Allah yang sakit tapi justru kita biarkan, berapa banyak hamba Allah yang mengemis demi sesuap nasi dan seteguk air tapi justru kita abaikan. Kita cenderung menutup mata dari realitas-realitas kehidupan sosial, kita terlalu asyik dan terlena dengan keindahan dunia yang sementara. Mungkin kita melihatnya, mendengarnya, tapi hati kita diam seribu bahasa, tak bergeming sedikit pun, tak terketuk sama sekali. Mungkin hati kita telah menjadi buta, tuli dan bisu serta lebih keras dari batu. Kita anggap itu takdir mereka dalam kehidupan dunia, itu perkara nasib baik atau buruk yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Kita anggap itu fenomena kehidupan, kita annggap itu sebagai hal yang wajar dan lumrah dalam kehidupan. Sunggguh kedunguan yang luar biasa, semoga Allah swt mengampuni kita.
Hari ini budaya individualisme dan golonganisme sudah semakin merebak, tidak hanya di perkotaan tapi juga di sebagian pelosok pedesaan. Sebuah evolusi sosial dan moral di negeri kita tercinta. Sehingga ketika ada tetangga yang sakit, baik sakit secara fisik atau ekonomi, kita tidak tergugah untuk menjenguknya, seolah bukan sebuah kewajiban, kita biarkan dan kita terlantarkan, kita egois dan kita apatis. Kita anggap mereka bukan kerabat kita, bukan family kita, mereka bukan golongan kita dan yang lebih naïf kita anggap mereka beda partai dengan kita. Padahal saat itulah kita dituntut untuk memperhatikan mereka, karena Tuhan pun sakit ketika hambanya sakit, tapi justru malah kita biarkan dan kita terlantarkan.
Di negeri ini ada banyak hamba Allah yang terabaikan dan teraniaya, bahkan pemerintah pun tak lagi peduli dengan nasib mereka. Bahkan kerap kali ketika kita naik sebuah bus kota atau kendaraan umum lainnya, kita menemukan diantara saudara-saudara kita yang sedang mengamen dan mengemis, mengais rezeki yang tidak seberapa demi sesuap nasi dan seteguk air putih. Tapi apa yang kita lakukan saat itu? Tak jarang sebagian di antara kita malah mengutuknya serta memakinya, kita anggap mereka sebagai bagian dari orang yang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tak berwajah, karena mereka sering mengemis. Kita posisikan mereka sebagai bagian dari para pendosa yang nista, kotor dan menjijikan, yang tidak secara langsung memposisikan diri kita sebagai manusia yang paling saleh, paling suci dan paling baik amalnya. Atau ada di antara kita yang mau berbagi sedikit rezeki dengan mereka, kita beri mereka uang recehan (ada yang 100, 500 atau paling gade 1000 rupiah), sembari menganggap bahwa itu adalah bagian dari amal saleh, padahal nurani kita menyatakan bahwa kita pun merasa malu memilki barang yang demikian. Maka tidak aneh, jika di zaman sekarang banyak orang yang bersedekah dengan sejumlah uang recehan, pakaian bekas dan makanan sisa, sembari beranggapan itulah amal shalih. Padahal Islam mengajarkan agar kita berderma dengan sesuatu yang terbaik dan masih kita cintai, bukan dengan sesuatu yang serba sisa yang, tidak secara langsung tanpa disadari menjadikan orang lain tak jauh beda dengan wadah sampah.
Tidak dapat kita sangkal, bahwa penduduk negeri ini sudah semakin tersibukkan dengan urusannya masing-masing. Orang kaya (kaum borjuis) terlalu sibuk mengurusi uangnya, menghitung kekayaan dan aset perusahaannya sembari terus meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga dan golongan. Mereka terjebak dalam gaya hidup yang glamour, hedonis, individualis tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk berbagi dengan si miskin di pinggir jalan atau si gelandangan di kolong jembatan. Adapun di pihak lain, para pejabat, pemerintah dan elite politik tersibukkan oleh masalah jabatan, pangkat dan kedudukan, padahal seharusnya mereka berjuang untuk rakyat di negeri ini, mereka seharusnya menjadi pelayan masyarakat, tetapi nyatanya mereka tidak pernah mau jadi pelayan, selalu ingin dilayani dan dihormati oleh rakyat. Sungguh seorang pelayan yang tidak tahu diri, melakukan kudeta dan menjadikan diri sebagai raja. Maka tidak heran jika masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak pernah terpecahkan, dari tahun ke tahun jumlahnya bukan semakin berkurang malah makin bertambah. Padahal sudah banyak sarjana yang mendapatkan berbagai penghargaan karena kemiskinan, karena pengemis dan karena mereka yang jadi gelandangan. Sungguh ironi, semuanya hanya wacana belaka. Di samping itu, ada juga kelompok yang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat di parlemen, mereka melakukan kampanye dengan yang tidak sehat, bukan karena melanggar aturan, tapi karena modelnya yang kampungan dan murahan. Mereka membuat spanduk, kaos dan kalender dengan poster dan jargon masing-masing ditanbah lagi dengan janji manis yang selalu jadi pil pahit bagi rakyat. Padahal kalau kita boleh jujur, rakyat kita saat ini, terutama kaum miskin tidak membutuhkan spanduk, kalender dan janji-janji manis, akan tetapi mereka lebih membutuhkan uluran tangan kita, bantuan, perhatian dan santunan. Mereka butuh lapangan kerja, mereka butuh sesuap nasi untuk menyambung kehidupan. Alangkah baiknya jika dana kampanye setiap caleg dialihkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga demi kesejahteraan rakyat jelata, dikumpulkan dan dihimpun oleh lembaga tertentu dan disalurkan kepada mereka yang selalu mempertanyakan “besok makan apa”, bukan pada mereka yang berkata “besok makan siapa”.
Sementara itu di pihak lain, sebagian kaum elite agama (kiai atau ulama) selalu sibuk dengan ibadah-ibadah ritual yang sifatnya individual. Mereka terlalu asyik dan khusyuk dalam shalat dan munajatnya, sehingga umat pun terlantar dan terabaikan. Mereka tenggelam dalam ibadah-ibadah ritual formal dan mengurusi hal-hal yang bersifat lahiri semata. Mereka hanya bisa berbicara masalah shalat dan zakat tanpa disertai usaha penanaman nilai-nilai moral shalat dan spiritualitas beragama pada masyarakat. Mereka hanya mengajarkan konsef sabar dan pasrah pada orang-orang miskin, tapi tidak pernah mau berbagi. Padahal jika kita perhatikan sebagian dari mereka termasuk kalangan mampu dan berada, tapi ternyata hedonisme dan kesenangan dunia menjebaknya. Sebagian mereka hanya mampu mengutuk orang-orang yang tidak shalat berjama’ah, melalaikan shalat dari waktu yang semestinya, dan mencap orang yang demikian sebagia kaum yang mendustakan agama. Sejatinya dalam pandangan cendikiawan muslim, orang yang mendustakan agama bukan orang yang tidak melakukan shalat berjama’ah atau orang yang melalaikan shalat dari waktunya, karena yang demikian jelas diampuni, apalagi ketika kondisi memaksa mereka berbuat demikian. Justru yang mendustakan agama adalah mereka yang berpaling dari nilai-nilai moral dan spiritual dalam shalat, shalat mereka hanya sebatas lahiri belaka tidak sampai pada tataran batini (penghayatan ritual keagamaan). Sehingga kesalehan mereka hanya bersifat individual belaka dan tidak sampai pada tahap kesalehan sosial.
Agama kita ini adalah Islam yang artinya penyelamatan, bukan salam yang artinya keselamatan. Dari segi penamaanya ada nuansa tersendiri dan ada semacam tuntunan untuk bergerak keluar menjadi penyelamat. Karena itu dalam firman Allah kita dapati bahwa Allah mencintai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bukan hasinin (orang-orang yang baik). Dalam sabda Nabi saw pun kita temukan ungkapan yang senada dengan itu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi bukan seberapa banyak yang kita lakukan untuk diri kita, tapi seberapa banyak yang dapat kita lakukan dan kita berikan bagi orang lain, meskipun substansinya tetap untuk kita.
Sungguh malang nasib rakyat kecil, mereka makin tergusur dan terasingkan dari percaturan dunia saat ini. Mereka adalah tanggungan kita sebagi orang yang mampu. Karena itu jenguklah mereka ketika sakit, berilah mereka makan dan minum tatkala lapar dan dahaga. Berikan yang terbaik dan bukan sisa, karena pada saat itulah Tuhan sakit, dan meminta makan dan minum pada kita.
Sekarang tidak terketukkah hati kita?!

by berbagai sumber

Ditulis dalam Akhlak Muslim | Bertanda: , | 7 Komentar »

Diantara Kesuksesan Berdakwah

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 2 Juli 2009

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya jiwa manusia itu menyukai hal-hal yang buruk, yaitu hal-hal yang menyelisihi perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” (QS. Yusuf: 53). Jika demikian keadaannya, tentunya kebenaran adalah sesuatu yang teramat berat bagi jiwa manusia.

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi-Nya dengan membawa agama yang penuh dengan kemudahan. Dan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107). Keberhasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam menyampaikan kebenaran kepada manusia pastilah mempunyai rahasia yang agung dan patut kita pelajari.

Dakwah Butuh Kelembutan

Kebenaran yang pada asalnya susah untuk diterima oleh jiwa, ketika disampaikan dengan cara yang buruk, cara yang kasar, tentunya justru akan membuat orang semakin lari dari kebenaran. Oleh karena itulah, dakwah pada dasarnya harus disampaikan dengan cara lemah lembut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Faidah Berlemah Lembut di Dalam Dakwah

Para pembaca yang budiman, lemah lembut di dalam berdakwah mempunyai banyak sekali faidah. Salah satu di antaranya adalah dapat menyadarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34)

Contoh Sikap Lemah Lembut Rasulullah di Dalam Berdakwah

Para pembaca yang budiman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan bagi kita dalam hal akhlaq dan perilaku. Alangkah indahnya kisah beliau ketika menasihati seseorang yang hendak berbuat kemaksiatan. Kisah ini dituturkan oleh sahabat beliau, Abu Umamah. Beliau bercerita, “Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina’. Lalu ada sekelompok orang yang mendatangi dan menegurnya, ‘Diam… Diam…!!’ Lalu beliau bersabda (kepada para sahabat beliau), ‘Dekatkan ia kepadaku.’ Lalu ia pun mendekati beliau. Setelah ia duduk, beliau bertanya, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai ibunya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai putrinya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai saudarimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai saudarinya…’ Lalu beliau meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya’. Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berfikir untuk berbuat zina lagi’. (HR. Ahmad, Shohih)

Catatan Penting

Para pembaca yang budiman, yang patut kita perhatikan adalah hendaklah bagi orang yang berdakwah meluruskan niat untuk ikhlas karena Allah Ta’ala semata. Yaitu dengan mengharap pahala dari Allah dan bermaksud untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain, serta agar mereka taat kepada Allah Ta’ala. Tidaklah dakwah kita itu bertujuan agar orang lain masuk ke organisasi kita dan tidak ke organisasi yang lain, masuk ke partai tertentu dan tidak ke partai yan lain ataupun tujuan duniawi lainnya. Apabila kita sudah berusaha di dalam berdakwah, ikhlas kepada Allah semata namun orang yang kita dakwahi belum atau tidak menerima dakwah kita, janganlah terburu-buru untuk memvonis bahwa orang yang kita dakwahi tersebut telah menolak kebenaran. Namun hendaknya kita selalu instrospeksi diri. Mungkin cara kita salah atau mungkin kita tidak sanggup untuk menjelaskannya dengan gamblang atau mungkin faktor-faktor yang lain. Akhirnya, semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua dan kita juga berdoa kepada Allah agar berkenan untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta membukakan hati-hati mereka untuk memerima kebenaran. Amin.

***

Penulis: Ibnu Ali Sutopo Yuwono
Artikel www.muslim.or.id

Ditulis dalam Akhlak Muslim | Bertanda: | 4 Komentar »

Iman

Ditulis oleh mrmahesa di/pada 1 Juli 2009

A. Iman adalah qaul (perkataan) dan ‘amal (perbuatan).

Iman dalam arti syar`i (iman syar`i) terdiri dari qaul (perkataan) dan ‘amal (perbuatan). Yang dimaksud dengan perkataan adalah perkataan hati dan perkataan lisan. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan hati dan perbuatan anggota badan. Jadi iman itu mempunyai dua sisi yaitu sisi hati dan sisi anggota badan (termasuk lisan). Sisi hati ada dua bagian yaitu perkataan hati dan perbuatan hati. Demikian juga sisi anggota badan yaitu perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Semua empat bagian itu adalah iman. Ketika empat bagian itu didapati pada diri seseorang, maka setiap bagian juga dinamakan iman seperti keseluruhannya pun dinamakan iman.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Bertanda: | 3 Komentar »